Minggu, 18 November 2012

KEGIATAN PERAYAAN GKJ KALICERET

KEGIATAN PERAYAAN GKJ KALICERET
1. NATAL

     Kegiatan Natal dilaksanakan untuk Sekolah Minggu, Komisi Pemuda, dan orang tua baik Induk dan pepantahan GKJ Kaliceret. Kegiatan  hari Besar yang lain seperti Paskah dan Natal. Dua acara ini banyak dinanti oleh anak-anak. 
    Pada acara paskah, biasanya ada kegiatan mencari telur paskah. Telur ini disembunyikan disekitar halaman gereja, kemudian dicari oleh semua anak.
     Lebih meriah lagi susasana perayaan Natal. pada acara ini, semua anak menanti dengan sukacita. Pakaian makanan menjadi suka cita sendiri.Natal menjadi momen sangat meriah. Karena biasanya orang Kaliceret yang merantau pulang kampung untuk sekedar merayakan natal di Kaliceret. Pada jaman Zending dulu, natal tentu saja menjadi moment yang selalu dinanti. Karena biasanya para penginjil selalu membagikan pakaian baru, roti, dan makanan pada waktu hari natal.


2. TAHUN BARU

    Kegitan tahun baru menjadi kegitan yang  sangat berharga. Pada perayaan ini dilakukan dengan berbagai kegiatan. Mulai dari ibadah tutup tahun, sampai anjangsana ke rumah warga sebagai kesempatan untuk saling berkunjung. Disamping itu momen tahun baru adalah momen yang penuh makanan dan pakaian baru.
    Pada saat anak-anak saling berkunjung dari rumah ke rumah, setiap rumah telah menyediakan berbagai menu makanan. Semua gratis boleh dinikmati. Bahkan tuan rumah sering menyediakan angpao untuk anak-anak yang datang. Tidak hanya itu, anak-anak ada yang membawa serta tas plastik/tas kresek untuk menampung makanan kecil yang diberikan tuan rumah.

3. Dokumentasi Kegiatan GKJ Kaliceret

Minggu, 26 Agustus 2012

Bujono Pirukun/Kepungan



 BUJONO PIRUKUN/KEPUNGAN

      Secara etimologis bujono berarti perjamuan. Pirukun berarti rukun atau damai. Kata lain Bujono Pirukun adalah Kepungan. Kepungan berasal dari kata kepung, yaitu mengepung sesajian nasi beserta lauk pauk secara bersama-sama. Kebersamaan terwujud dengan makan bersama-sama, memakai tangan pada tempat yang sama, serta berbagi bersama. Rukun juga berarti damai atau mau hidup berdampingan. 


Inilah model menu sajian/hidangan setelah diracik, 
sebelum disantap bersama

     Hal ini terbukti dengan hidangan yang dibawa masing-masing jemaat, kemudian diracik dalam sebuah wadah menjadi lengkap berwarna-warni. Semua akan bisa menikmati hidangan yang dibawa semua warga jemaat. Bagi yang tidak kuat membawa lauk ikan atau ayam, akan bisa ikut menikmati bersama. Sedang bagi yang kuat membawa lauk yang lebih lengkap, harus merelakan diri dibagi bagi yang lain. Satu untuk semua, semua untuk satu.


Gambar Ibu2 sedang meracik makanan yang dibawa jemaat

Sedang secara teologis, bujono pirukun berarti perjamuan kasih, atau perjamuan makan bersama sebagai ekspresi hidup setara saling mengasihi. Hal ini dilakukan karena jemaat adalah orang-orang percaya yang telah ditebus oleh Yesus Kristus yang berkedudukan sama di hadapan Allah. Mereka semua sebagai keluarga Allah. Sehingga perjamuan kasih dimakna sebagai makan bersama yang menggambarakan perjamuan makan di surga. Oleh karena itu semua orang menghayatinya sebagai kesataraan untuk saling menerima dan sejajar tanpa disekat oleh perbedaan apapun.


                                       Jemaat setara satu rasa menikmati kepungan





      
 "Kamu telurnya ya, aku peyeknya aja"

      Dalam satu tahun Bujono Pirukun di GKJ Kaliceret dilaksanakan sebanyak 4 kali. Yaitu pada saat peringatan Paskah (Bulan Maret/April), Bulan Juli, Bulan Oktober/Pekan Keluarga, dan pada saat hari Natal, atau saat peristiwa khusus sesuai permintaan dan kondisi, misalnya ada tamu dari luar kota yang ingin merasakan Bujono Pirukun, saat Tukar Mimbar Klasis, atau Tukar Mimbar Sinode, dll.
Foto-foto Saat Team dari YAKKUM Purwodadi 
menikmati Kepungan


Tim RS.Panti Rahayu YAKKUM Purwodadi sedang menikmati Kepungan


Ayo, ramai-ramai ambil!

     Perlengkapan Bujono Pirukun/Kepungan adalah sejumlah sajian nasi dan lauk pauk serta sayur masyur kudapan yang diracik dalam satu wadah besar untuk kemudian dikepung/dimakan bersama-sama. Makanan ini dibawa oleh jemaat dari rumah masing-masing. Ada yang membawa nasi dengan lauk tertentu. Ada yang membawa nasi dengan sayuran tertentu, dll. Setiiap orang membawa bekalnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. 
     Mereka membawa dan mempersiapkan dengan suka cita sebagai ungkapan syukur atas berkat Tuhan kepada mereka. Bahkan acara seperti ini selalu dinanti-nanti kedatangannya. Tidak heran mereka yang merantau keluar Kaliceret sangar merindukan nostalgia acara Bujono Pirukun, terutama pada saat hari Natal, banyak warga jemaat yang pulang ke Kaliceret tumpah ruah untuk mengikuti acara ini.




 Rekan-rekan dari RS.Panti Rahayu Yakkum sedang menikmati
Bujono Pirukun, Minggu, 21 Juni 2015

     Biasanya Bujono Pirukun dilaksanakan setelah ibadah selesai. Warga jemaat kemudian pulang ke rumah masing-masing untuk kembali lagi ke gereja sembari membawa bekal perlengkapan Bujono Pirukun. Perlengkapan ini kemudian diracik lagi di wadah besar dan disajikan dari semua yang ada di bawa oleh jemaat, Jadi mereka yang kemudian makan bersama akan menikmati semua yang dibawa dan tidak bisa memilih-milih. Di sinilah letak rasa berkorban untuk bersedia berbagi dengan apa yang mereka bawa. Yang tidak mampu menikmati bekal dari yang mampu. Sebaliknua yang mampupun harus rela merasakan hidangan dari yang tidak mampu.
     Cara menyantap bujono pirukun cukup unik. Secara otomatis warga jemaat berkumpul/mengepung hidangan sesuai wadah yang ada. Maka akan timbul lingkaran-lingkaran yang mengepung sajian. Sehingga Buono Pirukun sering disebut juga Kepungan. Meraka yang menyantap makanan juga tidak memakai sendok atau garpu, tetapi “muluk” atau memakai tangan secara langsung sehingga akan timbul kenikmatannya saat menyantap Bujono Pirukun secara bersama-sama.

Rabu, 22 Agustus 2012

Foto-Foto Kuno Murid SD Kristen Kaliceret

Berikut ini beberapa dokumentasi yang berhasil ditemukan yang berkaitan dengan keberadaan sekolah di Kaliceret. 
Foto Jadul murid SD Kristen Kaliceret sedang kerja bakti. Kemungkinan lokasi di belakang Loji. Foto diambil tahun 1908 .



SD Kristen Kaliceret, TK Kristen Kaliceret dan GKJTU Kaliceret, 
tampak menara dan loncengnya saja


Catatan Tambahan SEJARAH KALICERET


Menurut Mbah Kalidah (Meninggal pada 3 April 2007 pada usia 101 tahun, istri Mbah Isakar, Kyai Badrun dari Kuripan Purwodadi yang mengubah namanya dengan Isakar setelah menjadi Kristen, seorang Kolporteer/pedagang buku rohani), sebelum ada gereja (sekarang GKJTU), Kaliceret baru dihuni oleh lima orang. Sekitar Kaliceret masih lebat oleh hutan jati. Baru setelah itu orang-orang dari Salatiga Zending membangun rumah dari welit/ilalang yang dulunya berlokasi di Pastori GKJ Kaliceret yang sekarang ini. Rumah welit tersebut oleh orang-orang asing tadi dipakai untuk mengabarakan Injil terutama melalui bidang kesehatan. Beberapa orang yang sembuh dari penyakitnya tidak mau kembali ke daerah asalnya, tetapi menetap di Kaliceret dan menjadi Kristen. Jadi tempat itu disamping sebagai balai pengobatan juga dipakai sebagai    tempat ibadah juga sekaligus pastori. Mereka yang pernah tinggal di tempat itu adalah Pdt.Steisen, Pdt.Prusdey, dan Pdt.Panenga.


Rumah kaliceret kuno dari welit seperti yang diceritakan mbah Kalidah. Bruder Bansemer dan Bruder Heintze bersama anak-anak sekolah Kaliceret

 

            Lama-kelamaan orang-orang sekitar Kaliceret banyak yang berdatangan menghuni di Kaliceret danm menjadi Kristen. Karena perkembangan PI dan Balai Pengobatan, rumah welit diperbaiki sedangkan tempat ibadah dibuatlah gereja GKJTU yang sekarang ini. Untuk pastori dibuatlah kompleks kapandhitan, yaiitu loji yang sekarang ini. Pada waktu itu gereja (GKJTU) dipakai untuk sekolah dari senin sampai sabtu, sehingga dibuat sekat-sekat di gereja. Tetapi pada hari minggu sekat-sekat itu dibuka untuk kebaktian, Lama kelamaan balai pengobatan juga semakin berkembang, sehingga dibuatlah rumah sakit kaliceret yang menjadi satu-satunya rumah sakit di grobogan waktu itu. Tetapi karena keberadaan jalan yang menuju ke kaliceret waktu itu rusak, maka rumah sakit kaliceret berangsur-angsur mengalami kemuduran dan akhitnya mati.

Mbah Kalidah, istri Bp.Isakar, kolporteer Kaliceret



Catatan Kecil:
  1. Anggota majelis GKJ Kaiceret pada saat perpecahan gereja adalah :Guru Injil Yosafat, Bp.Isakar, Bp.Semangun, Bp.Yoram, Bp.Paulus, Selain Bapak Yosafat semua mejelis berjabatan penatua.
  2. TK Kristen Kaliceret pertama kali menempati bekas rumah sakit kaliceret di bagian rumah dinas pegawai. Lalu pindah lagi ke bagian rumah dinas bersalin, pindah ke ruang kantor, baru yang terakhir menjadi satu kompleks dengan SD Kristen Kaliceret.

Selasa, 21 Agustus 2012

Sejarah Singkat TK Kristen Kaliceret


TK Kristen Kaliceret berdiri pada tanggal 1 Agustus Tahun 1965 dengan jumlah murid sebanyak 63 anak dengan seorang guru bernama Ibu Sri Rahayu (saat ini beliau masih aktif melayani di gereja). Tahun ajaran 1966 jumlah murid ada 54 anak. Sedang tahun ajaran 1966/1967 jumlah murid ada 43 anak. Tahun 1967 Ibu Sri Rahayu harus merangkap guru SD Kristen Kaliceret. Berhubung karena nota dinas harus mengajar di SD maka ibu Sri Rahayu mengajar merangkap TK.
            Tahun 1968 Ibu Sri Rahayu melepas TK dan digantikan Ibu Sri Widayanti dan Ibu Sri Hayati. Pada mulanya honor dan biaya operasional menjadi tanggung jawab YPK (Yayasan Perguruan Kristen) di Purwodadi. Tetapi tahun 1970 YPK melepas TK sehingga menjadi  tanggung jawab GKJ Kaliceret. Oleh gereja kemudia TK diserahkan kepada KWD (Komisi Warga Dewasa) GKJ Kaliceret untuk dikelola.
Setelah  Ibu Sri Widayanti dan Ibu Sri Hayati pindah, maka guru TK diganti oleh Ibu Sumarini. Setelah Ibu Sumarini, guru TK dipegang oleh Ibu Semi. Setelah ibu Semi ditarik untuk mengajar SD Kristen Kalicerer, maka Ibu Semi digantikan Ibu Rumanti Wulansari. Karena kerepotan mengasuh keluarga maka Ibu Rumanti Wulansari digantikan oleh Ibu Edy  Sri Wijayanti. Tetapi baru beberapa bulan mengajar, Ibu Edy Sri Wijayanti meninggal pada tanggal 19 September 1988 karena sakjt. Untuk itu guru TK dirangkap oleh Ibu Semi, guru SD Kristen Kaliceret. Tetapi setelah berjalan beberapa waktu, Ibu Semi merasa kewalahan dengan tugas rangkapnya tersebut. Untuk itu melalui rapat koordinasi, KWD memutuskan untuk menetapkan Ibu Sulistyowati menjadi guru TK sampai sekarang. Sekarang ini Ibu Sulisytowati dibantu anaknya, yaitu Sdri.Vita Tri Utami.
Setelah ibu Sulistyowati meninggal pada .... , maka TK Kaliceret diampun oleh Sdri.Vita Tri Utami dan Kurnia Murwani. 

Sejarah Singkat SD Kristen Kaliceret


SEJARAH SINGKAT SD KRISREN KALICERET

 

          Selain layanan Kesehatan, zending juga menyelenggarakan Pendidikan sebagai sarana PI. Kaliceret setidaknya sudah memiliki sekolah sewaktu Boer masih tinggal di Kaliceret. Awalnya 12 anak, lalu menjadi 50 anak. Kaliceret juga memiliki sekolah perempuan yang didirikan oleh istri Kuhnen, Bernama Caroline Auguste Alwine Bulten. Namun istri Kuhnen meninggal di Kaliceret tahun 1899, dan Kuhnen Kembali ke Jerman. Posisinya digantikan Kabelitz tahun 1902. Di SD pernah tinggal pendeta dari Jerman Pendeta Kuhnen dan Pendeta Kabelitz

 


Disamping sebagai tempat mendidik/melatih calon-calon perawat pribumi, gereja merasakan bahwa pendidikan dasar dirasakan sangat penting bagi masyarakat, maka dibukalah sekolah “Ongko Loro/angka dua” atau Sekolah Dasar kelas Dua di Balai Pelatihan Perawat Pribumi (belakang loji). Sekolah ini setaraf sekolah rakyat/SD. Tetapi pada masa Jepang, sekolah ini secara otomatis berhenti, karena baik gereja, loji, maupun balai perawat pribumi dikuasai oleh Jepang. 

    Jaman kemerdekaan sekolah dimulai lagi dan pada jaman perang kemerdekaan tahun 1947-1948 sekolah sempat dipindahkan ke desa Mliwang. Baru tahun 1970 oleh Bp.Sutrisno Yuwono sekolah diminta agar diselenggarakan lagi di Kaliceret dan menempati loji kembali. Pada rumah kapandhitan/loji juga pernah dikembangkan sekolah tehnik (ST) dan kemudian menjadi SMP PGRI. 

    Untuk saat ini kompleks SD Kristen Kaliceret ditambah local baru ditambah Gedung TK Kristen Kaliceret.

   
Berikut ini beberapa dokumentasi yang berhasil ditemukan yang berkaitan dengan keberadaan pendidikan di Kaliceret.

 

Foto murid dan guru berfoto bersama di depan Loji/SD Kristen Kaliceret sekarang. Foto berasal dari Kartu Pos jaman Belanda sekitar tahun 1903.

 

 

Foto Bruder Bansemer (baju hitam) dan Bruder Heintz (baju putih) bersama anak-anak sekolah di Kaliceret. Foto kemungkinan di depan Pastori GKJ Kaliceret sekarang, seberang timur SD Kristen Kaliceret sekarang.

 

 

Foto anak-anak Sekolah Minggu sedang melakukan kerja bakti di Kaliceret. 

 

 

Foto ini tepatnya berarti diambil dari posisi sebelah halaman bagian depan sisi utara. Sebab Sekolah ini menghadap ke timur. Lihat, bentuk pagarnya teras depannya masih sama dengan sekarang ini, Jadi masih sangat utuh.

 

 

Foto loji Kaliceret yang sekarang digunakan untuk gedung SD Kristen Kaliceret.

 

REFERENSI DARI jejalkolonial.blogspot.com karangan Lengkong Sanggar Ginaris

Sejarah Singkat SD Kristen Kaliceret


    Disamping sebagai tempat mendidik/melatih calon-calon perawat pribumi, gereja merasakan bahwa pendidikan dasar dirasakan sangat penting bagi masyarakat, maka dibukalah sekolah “Ongko Loro/angka dua” atau Sekolah Dasar kelas Dua di Balai Pelatihan Perawat Pribumi (belakang loji). Sekolah ini setaraf sekolah rakyat/SD. Tetapi pada masa Jepang, sekolah ini secara otomatis berhenti, karena baik gereja, loji, maupun balai perawat pribumi dikuasai oleh Jepang. 
    Jaman kemerdekaan sekolah dimulai lagi dan pada jaman perang kemerdekaan tahun 1947-1948 sekolah sempat dipindahkan ke desa Mliwang. Baru tahun 1970 oleh Bp.Sutrisno Yuwono sekolah diminta agar diselenggarakan lagi di Kaliceret dan menempati loji kembali. Pada rumah kapandhitan/loji juga pernah dikembangkan sekolah tehnik (ST) dan kemudian menjadi SMP PGRI. 
    Untuk saat ini kompleks SD Kristen Kaliceret ditambah local baru ditambah gedung TK Kristen Kaliceret.

    Berikut ini beberapa dokumentasi yang berhasil ditemukan yang berkaitan dengan keberadaan pendidikan di Kaliceret.

Foto murid dan guru berfoto bersama di depan Loji/SD Kristen Kalicerert sekarang. Foto berasal dari Kartu Pos jaman Belanda sekitar tahun 1903.


Foto tuan Bansemer bersama anak-anak di Kaliceret. Kemungkinan berkaitan dengan pendidikan/sekolah minggu


Foto anak-anak Sekolah Minggu sedang melakukan kerja bakti di Kaliceret. 

 



Foto loji Kaliceret yang sekarang digunakan untuk gedung SD Kristen Kaliceret.