Sabtu, 18 Agustus 2012

school in kalitjeret


Nggak nyangka ya, saya yang hidup di Kaliceret jaman ini ternyata bisa menemukan foto Kaliceret tahun 1906. Mereka yang masuk di foto tentunya sudah nggak ada lagi. Saya sampai merinding menemukan foto ini sekaligus bangga tentunya. Nih dia sambil tolong perhatikan penampilan orang-orangnya, masih sangat tradisional dan njawani banget....

Foto ini tepatnya berarti diambil dari posisi sebelah halaman bagian depan sisi utara. Sebab Sekolah ini menghadap ke timur. Lihat, bentuk pagarnya teras depannya masih sama dengan sekarang ini, Jadi masih sangat utuh.....

Senin, 06 Agustus 2012

Sejarah Rumah Sakit Kristen di Kaliceret

 

Foto kuno Rumah Sakit Kaliceret, sesaat setalah selesai dibangun.

 

Keberadaan Rumah Sakit Kristen di Kaliceret berkaitan langsung dengan pekabaran Injil yang dilakukan oleh Salatiga Zending di daerah Grobogan. Bahkan keberadaan rumah sakit kristen di Kaliceret merupakan pusat penyebaran Injil ke wilayah sekitarnya.

Namun sayangnya kita tidak menemukan dokumen resmi secuilpun yang bisa menjelaskan kapan tepatnya berdirinya rumah sakit di Kaliceret.

Berdasarkan buku sejarah catatan sejarah Ds.Tabri Wirjowasito (Pendeta GKJ Purwodadi), yang dikutip dari Zendingseeuw van Nederland Oost Indie karangan S.Coolsma (Rotterdam, 24 Agustus 1901) dan Babad Zending Tanah Jawi karangan J.D.Wolterbeek, serta dari cerita dari mulut ke mulut dari dari Buletin Gerejawi, Dijelaskan bahwa pada waktu itu sekitar tahun 1900 di Purwodadi  berjangkit penyakit Frambosia (dikenal sebagai penyakit patek, semacam penyakit kulit yang mudah menular. Disebabkan oleh bakteri Treponema Pallidum).

Pendeta Geriche yang melayani di Keceme Gundi Purwodadi menaruh perhatian terhadap penderitaan rakyat ini dan secara langsung ikut merawat. Untuk itu tahun 1903 didatangkan dr.S.Vander Ley dari Belanda untuk mendirikan Rumah Sakit Pitulungan di Purwodadi. ini merupakan embrio Rumah Sakit Yakkum Purwodadi yang sekarang, Usaha ini mendapat sambutan baik dari pemerintah daerah setempat maupun dari masyarakat sehingga kemudian dibuka balai pengobatan di beberapa tempat. Sebagai cabangnya dibuka di Sulursari, Wirosari, Kradenan, Godong, Moga, Tegal, dan Rumah Sakit Pembantu di Kaliceret. Sedang dari Rumah Sakit Pituluingan ini dibentuk Komisi Pitulungan di Kaliceret yang kemudian menjadi Rumah Sakit Kristen Kaliceret.  

 

 

          Pada masa Pendeta Kabelitz, melayani di Kaliceret tahun 1902, balai pengobatan menumpang di rumah zending. Pasien pertama diketahui Bernama Sadipah, setelah sembuh ia mengabdi di balai pengobatan, karena belum ada tenaga perawat dari Eropa.  dan karena semakin berkembang maka rumah sakit Kaliceret dibangun tahun 1907 dari subsidi dana pemerintah colonial belanda. Untuk mencukupi Kaliceret dan rumah sakit kebutuhan air tahun 1911 dibangun saluran air dan bak penampung air.

 

Kabelitz melayani jemaat Kaliceret sampai tahun 1925. Setelah Kembali dari Jerman, dan sedianya akan melayani Kaliceret, karena alasan Kesehatan maka ditempatkan di ungaran sampai meninggalnya tahun 4 desember 1929.

 

 

 

 

 

 

 

Pada Masa Jepang, Rumah Sakit Kaliceret terbengkalai bahkan menjadi tempat menawan interniran. Setelah Kemerdekaa/Jepang pergi, Rumah Sakit di Kaliceret sementara ditangani pemerintah dan akhirnya dikelola oleh YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum, berpusat di Surakarta) dan Rumah sakit Kristen Kaliceret dijadikan Balai Pengobatan. Sedang pada masa perang kemerdekaan (1947-1948) Rumah Sakit Kaliceret dipakai untuk merawat korban perang. Masa perkembangan Balai Pengobatan sempat mencapai kejayaan hingga memiliki 40 karyawan. Tetapi karena kondisi jalan raya yang menuju ke Kaliceret (Jalan Gubung - Kedungjati) berangsur-angsur menjadi rusak, kondisi Balai Pengobatan merosot dan akhirnya tutup pada tahun 1962. Untuk itu karyawan yang ada dipindahkan ke Puskesmas Gubug, Tanggungharjo, dan Rumah Sakit Purwodadi. Setelah itu Balai Pengobatan akhirnya hanya menjadi balai pembantu dan akhirnya ditutup. Pada tahun 1963 salah satu zaal pengobatan sebelah selatan pernah dipakai oleh jemaat GKJ Kaliceret untuk tempat ibadah.

          Pada tahun 1970 bangunan bekas Rumah Sakit Kaliceret hendak dibongkar secara paksa oleh oknum yang menganggap bangunan tersebut miliknya. Maka oleh YAKKUM masalah ini dapat diselesaikan sehingga tahun 1980 dibentuklah panitia pembongkaran dan secara resmi rumah sakit kemudian dibongkar dan dibawa ke RS.Yakkum Panti Rahayu Purwodadi. Dua bangunan yang ada yaitu zaal pria serta kompleks bangunan perkantoran serta IGD dipinjam oleh GKJ Kaliceret untuk digunakan sebagai Gedung Gereja dan Pastori GKJ Kaliceret sampai sekarang. 

 

Foto salah satu sudut perawatan di rumahsakit pitulungan yang merawat pasien Frambosia, patek penyakit kulit menular

 

          Pada masa kejayaannya, rumah sakit Kaliceret menduduki peran yang sangat penting. Banyak pasien dari luar daerah datang untuk dirawat di tempat ini. Ada dua pengobatan terkenal dari rumah sakit ini pada waktu itu, yaitu pengobatan penyakit koreng dan paru. Mengingat waktu itu lingkungan kaliceret masih sangat sejuk dengan banyaknya hutan di sekitar desa. Tetapi setelah hutan ini sekarang gungdul, Kaliceret berubah menjadi sangat panas dan sulit air.

 Pada jaman penjajahan Jepang, rumah sakit Kaliceret terbengkalai bahkan dipakai untuk menawan interniran. Sedang pada masa perang kemerdekaan (1947-1948) rumah sakit di Kaliceret banyak dipakai untuk merawat para korban perang, terutama kiriman pasien dari Semarang. Setelah Jepang pergi, rumah sakit kembali ditangani pemerintah.

 

 

Foto interniran yang napak tilas ke Kaliceret

 

            Pengelolaan bekas Rumah Sakit Kaliceret oleh Yakkum termaktuf dalam surat “Kuasa dari JAJASAN RUMAH-RUMAH SAKIT KRISTEN DJAWA-TENGAH, ALAMAT: SAGAN LOR 2  JOGJAKARTA, nomor 013/62 tertanggal Jogjakarta, 18 April 1962 kepada Ds.K.POEDJOWIJONO, Pendeta Geredja Kristen Djawa jang tergabung dalam Synode Geredja Kristen Djawa Tengah di Kalitjeret (Kedungdjati, Purwodadi-Grobogan) untuk bertindak atas nama JAJASAN tersebut di atas, guna menguasai persil-persil dengan nomor verponding 512 dan 541 di desa Mrisi (Singen-Kidul,Purwodadi-Grobogan), beserta segala bangunan-bangunan jang berdiri di atasnya, serta segala sesuatu jang terletak dan tertanam pada persil-persil tersebut, seperti yang disebut dalam Surat Pemberian Hadiah (Schenking) nomor 22 tanggal 18 September 1956 dari Wakil Notaris R.SOEGONDO NOTODISOERJO. “

Senada dengan surat di atas, JAJASAN RUMAH-RUMAH SAKIT KRISTEN DJAWA-TENGAH TJAB.PURWODADI, DJL.DARMORINI 10 PURWODADI GROBOGAN, tertanggal 31 Agustus 1962 memberita tahu kepada Sdr.Bupati Kepala DaerahTingkat II Grobogan bahwa gedung-gedung di atas persil hak egendom verponding no.512 dan persil hak egendom verponding no 541 tidak lagi dipergunakan sebagai rumah sakit. Setelah tidak dipakai sebagai rumah sakit, statusnya sebagai rumah sakit pebantu.

            Pada tahun 1970 bekas bangunan rumah sakit Kalilceret akan dibongkar oleh oknum yang merasa memiliki hak atas bangunan tersebut. Namun upaya ini dapat digagalkan oleh Majelis GKJ Kaliceret bekerja sama dengan aparat keamanan setempat (cerita berdasarkan kesaksian Pdt.Em Driyoso Samuel). Pada waktu malam itu sudah didatangkan para tenaga bongkar lengkap dengan truk dan peralatannya.

 Tahun 1974 JAWATAN KESEHATAN RAKYAT KABUPATEN GROBOGAN tertanggal 8 Agustus 1974, berdasarkan surat Dokter Pemimpin YAKKUM cabang Purwodadi tertanggal 1 Agustus 1974 yang menyatakan bahwa gedug-gedung bekas pembantu Rumah Sakit Kaliceret hanya digunakan untuk BP saja, sedang gedung-gedung lain tidak dipergunakan, tidak keberatan atas permohonan Yakkum Cabang Purwodadi untuk membongkar sebagian dari gedung bekas Rumah Sakit Kaliceret untuk meneruskan pemangunan rumah sakit Yakkumdi Purwodadi. Keputusan atas pembongkaran  sebagian dari gedung bekas Rumah Sakit Kaliceret dikeluarkan oleh BUPATI KEPALA DAERAH TINGKAT II GROBOGAN tertanggal 26 Oktober 1976.

Tanggal 2  Mei 1977 YAYASAN KRISTEN UNTUK KESEHATAN UMUM (YAKKUM) CABANG KABUPATEN GROBOGAN BP/BKIA/KLINIK BERSALIN PANTI RAHAYU memberitahukan kepada Kepala Desa Mrisi tentang rencana pembongkaran.

Tanggal 3 Mei 1977 YAYASAN KRISTEN UNTUK KESEHATAN UMUM (YAKKUM) CABANG KABUPATEN GROBOGAN BP/BKIA/KLINIK BERSALIN PANTI RAHAYU meminta bantuan Majelis GKJ Kaliceret, yaitu Sdr.Budi Utomo, Sdr.Srijono, dan Sdr.Radiman Kadarmanto untuk membantu pengamanan pelaksanaan pembongkaran sampai selesai.

Tanggal 26 Mei 1977 YAYASAN KRISTEN UNTUK KESEHATAN UMUM (YAKKUM) CABANG KABUPATEN GROBOGAN BP/BKIA/KLINIK BERSALIN PANTI RAHAYU memberi mandat kepada  Majelis GKJ Kaliceret untuk menjada ketertiban dan keamanan terhadap sisa bangunan yang masih ada serta tanah-tanah yang ada termasuk tanah sisa bongkaran untuk dikelola oleh Majelis GKJ Kaliceret. 

          Seluruh bangunan rumah sakit dibongkar dan dikirim ke Purwodadi untuk memperkokoh bangunan rumah sakit YAKKUM di Purwodadi. Hanya bekas zaal pria dan kompleks perkantoran yang dipinjam oleh GKJ Kaliceret untuk dijadikan gereja dan pastori GKJ Kaliceret.


Sabtu, 04 Agustus 2012

Kaliceret Sekitar Perang Kemerdekaan


Baik sekitar Perang Kemerdekaan tahun 1945 maupun sekitar upaya Sekutu untuk menjajah kembaliIndonesia sekitar perang kemerdekaan tahun 1947-1948, Kaliceret termasuk daerah medan pertempuran waktu itu. Penduduk Kaliceret pada masa peperangan ini mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk menyelamatkan diri, terutama di kali/sungai selatan dukuh Kaliceret.

Jemaat Kaliceret Sekitar Perang Dunia I sampai Kedatangan Jepang


Menjelang pecahnya Perang Dunia I badan-badan PI di Jerman mengalami berbagai kesulitan, tidak terkecuali yang bekerja di Kaliceret. Pada waktu Jerman mengalami kekalahan pada PD I (1914-1918) secara otomatis tenaga-tenaga PI di Indonesia kehilangan kontak dengan induknya di Jerman. Banyak zendeling di dari Jerman yang pulang kembali ke Negara asalnya. Bahkan sejak tahun 1923 Jerman di landa Inflasi besar-besaran yang dikenal dengan peristiwa Malaise. Kesulitan-kesulitan ini mendorong Belanda (sebelum PD II masih sekutu Jerman) untuk mengambil alih wilayah PI. Untuk jemaat Kaliceret yang menjadi wilayah kerja Salatiga Zending, tidak diambil alih oleh jemaat Ermelo di Belanda, tetapi diambil alih oleh Gereformed Kerken in Nedherland atau GKN. Sebab waktu itu sudah berkembang pandangan yang baru mengenai Pekabaran Injil. PI merupakan tugas gereja dan bukan dipandang sebagai tugas lembaga pekabran Injil. Demikian keputusan ini dihasilkan dalam siding sinode di Midelberg tahun 1896. Maka berakhirlah periode PI oleh badan PI dan muncul periode PI oleh gereja pengutus yaitu GKN. Sejak saat itu induk gereja di Kaliceret tidak lagi di Jerman (NM) tetapi di di Belanda (GKN). Dengan demikian masa kerja Salatiga Zending di Kaliceret adalah dari tahun 1884 sampai 1917. Sebab sesudah itu Jerman dikuasai oleh Nazi Jerman di bawah Hitler (1933-1945) yang kemudian menyeret Jerman ke PD II (1939-1945).
Pada PD II Belanda tidak menjadi sekutu Jerman tetapi menjadi musuh Jerman. Dalam perang ini Jerman menderita kekalahan dan kehilangan seluruh daerah jajahannya. Maka ketika tahun 1940 ketika Belanda berhasil mengalahkan Jerman, Neukicherner Mission langsung dibekukan pemerntahan Hindia Belanda dan semua zendeling Jerman yang ada ditahan. Untuk banyak zendeling di Kaliceret yang pulang kembali ke negaranya. Sekitar tahun tersebut keadaan jemaat Kaliceret tidak begitu kacau demikian pula dengan keberadaan rumah sakit di kaliceret masih berjalan seperti biasa. Hanya ketika Jepang berhasil merebut kekuasaan dari Belanda, suasana yang dihadapi jemaat Kaliceret lebih sulit. Ketika Jepang dating, semua zendeling di tahan. Gereja serta rumah sakit dipakai untuk menahan interniran Belanda termasuk tenaga-tenaga medis yang ada (salah satunya adalah Mr.Theo G.Huygens yang pernah napak tilas ke Kaliceret pada bulan April tahun 1998). Maka tempat ibadah untuk sementara dipindah ke rumah Bp. Yosafat (Gudang Jagung sekarang). Sedang rumah Loji (rumah kapandhitan) digunakan sebagai markas Jepang. Untuk itu dibuatlah pagar keliling di sekitar tanah gendom (lihat peta). Pada jaman ini semua bentuk hubungan dengan Belanda dilarang, sehingga jemaat Kaliceret kehilangan kontak dengan GKN.
Pada masa Jepang secara umum merupakan masa sulit di seluruh wilayah Indonesia. Pada masa ini rakyat kekurangan sandang dan pangan. Kebanyakan rakyat hanya memakai pakaian dari karong goni. Itupun didera banyak kutu. Hasil bumi menjadi sulit, Sebab separo dari hasil pertaninan harus diserahkan kepada Jepang. Para petani juga dipaksa menanam jarak di ladangnya. Akibatnya krisi pangan sangat mengerikan. Penderitaan ini masih ditambah dengan mewabahnyapenyakit waktu itu seperti borok berair, busung lapar, dan wabah kutu. Bahkan pada masa jemaat Kaliceret mengalami kesulitan pangan seperti diwilayah manapun di Indonesia pada masa penjajahan Jepang. Namun demikian jemaat Kaliceret dapat bertahan hidup dengan cara mencari ubi liar di hutan.

Kehidupan Para Zendeling di Kaliceret

Dalam kaitan dengan badan PI ada istilah yang saling berkaitan yaitu zendeng dan zendeling. Zending adalah nama badan PI (Kristen), sedang zendeling adalah orangnya. Di kalangan Katolik di kenal dengan istilah Misi dan Misionaris, pekabar Injil gereja Katolik. 
Baik jemaat Ermello di Belanda maupun Lembaga PI Neukirchener Mision dari Jerman keduanya mengutus para penginjilnya tanpa jaminan hidup. Paham yang dianut adalah Faith Mission (Misi Karena Iman), yaitu asas PI yang tidak mau menggantungkan pada pengurus tanah air baik secara finansial maupun secara organisatoris. Oleh karena itu mereka yang telah dikirim harus bisa menghidupi dirinya sendiri melalui ketrampilan-ketrampilan yang mereka miliki, seperti beternak, bercocok tanam, berdagang, bertukang, dll, sambil bersaksi. Dari latar belakang seperti inilah di Kaliceret waktu itu terdapat banyak kandang sapi dan kandang kuda dibelakang kompleks pstori yang ada (logi).  

Kamis, 02 Agustus 2012

Salatiga Zending dan Jemaat Kaliceret

Sejarah berdirinya jemaat Kaliceret tidak bisa dilepaskan dengan adanya de Zending Salatiga (diindonesiakan menjadi Salatiga Zending). Disamping dikembangkan oleh badan itu, Kaliceret juga merupakan wilayah kerja dari Salatiga Zending. Dengan demikian yang mengembangkan jemaat Kaliceret tidak hanya zendeling Belanda saja namun juga Zendeling Jerman. 
Memang yang kemudian mengambil alih wilayah PI di Kaliceret adalah Neukirchener Mission dari Jerman, tetapi pengambil alihan ini terjadi karena adanya penyerahan wilayah PI dari jemaat Ermelo (Belanda) kepada NM (Jerman), mengingat jemaat Ermelo waktu itu sudah tidak sanggup lagi mengirim utusannya ke wilayah PInya. Dengan demikian sebenarnya yang pertama kali mendirikan jemaat Kristen di Kaliceret adalah para zendeling Belanda (terutama de Boer). De Boer sendiri sampai ke Salatiga karena diminta oleh Ny.de Jolle untuk melayani jemaat di Nyemoh yang ia dirikan. 
Dengan demikian sejak tahun 1884 usaha PI di Salatiga diteruskan oleh NM dan Perhimpunan Para Pendukung Pekabaran Injil dari Zending Salatiga. Sedang para zendeling Jerman sendiri membentuk Perserikatan Para Zendeling dari Salatiga Zending di Jawa. Ketiga badan itu secara bersama-sama merupakan sebutan dari Salatiga Zending dengan pusatnya di Neukirchen, Jerman. Sejak tahun itu maka Kaliceret menjadi wilayah kerja SZ.

Rabu, 01 Agustus 2012

Sejarah Pekabaran Injil di Kaliceret

Kekristenan di desa Kaliceret berkembang berkat adanya pekabaran Injil yang dilakukan oleh  Salatiga Zending, sebuah lembaga pekabaran Injil yang dibentuk oleh jemaat Ermelo (Belanda) dan jemaat Neukicherner di Jerman. Salatiga Zending merupakan lembaga pekabaran Injil yang dibentuk dengan wilayah kerja meliputi Jawa Tengah bagian Utara. Salatiga Zending sendiri sebenarnya merupakan perkumpulan tiga lembaga yatu: Neukichener Mission, Perhimpunan Pendukung Para Pekabar Injil dari Salatiga Zending di Jawa, dan Perserikatan Para Zendeling dari Salatiga Zending di Jawa. Zendeling adalah orangnya, sedang Zending adalah nama untuk badannya. 


Foto GKJ Kaliceret tahun 1998.

Berdasarkan buku panduan penahbisan Pendeta GKJTU tertanggal 29 Mei 1998 disebutkan bahwa terjadinya jemaat Kaliceret adalah berkat adanya pekabaran Injil yang dilakukan Zendeling dari Belanda yaitu Pendeta de Boer pada tahun 1869. Padahal berdasarkan keterangan Buku Ragi Carita Karangan Van Den End/hal 223, Pendeta de Boer merupakan utusan dari Jemaat Ermelo di Belanda yang ditugaskan di Jemaat Nyemoh (Bringin, kurang lebih 20 Km Selatan Kaliceret ke arah Salatiga), karena diminta oleh Ny.de Jolle, pendiri jemaat di Nyemoh. Itu artinya keberadaan jemaat di Kaliceret merupakan perkembangan dari pekabaran Injil dari desa Nyemoh. Bahkan secara historis Kaliceret kemudian menjadi pintu masuk untuk penyebaran kekristenan di wilayah kabupaten Grobogan,Dari desa Nyemoh inilah pekabaran Injil kemudian bergerak dari desa Kristen Nyemoh di Wonorejo Salatiga ke wilayah utara yaitu Kaliceret.


Ibu D'e Jolle. pendiri jemaat Nyemoh, Wonorejo, Bringin Salatiga

    Mengingat bahwa keberadaan orang Kristen di kaliceret tidak bisa lepas dari pekabaran Injil yang dilakukan oleh Pendeta de Boer, itu artinya bahwa sebelum kekristenan berkembang di Kaliceret, dukuh Kaliceret sudah memiliki penduduk sebelumnya. Hanya siapa saja yang pertama kali menghuni dukuh Kaliceret tak bisa dilacak mengingat tak ada satu buktipun yang dapat dipakai untuk merunut sejarah ini. Kita hanya bisa menduga-duga dengan sejarah pembukaan areal hutan menjadi dukuh Kaliceret oleh para prajurit Mataram waktu itu (lihat sejarah desa Kaliceret). Kemungkinannya mereka menempati dukuh Kaliceret yang kemudian diikuti oleh yang lain.


Foto ini menceritakan kegiatan kerja bakti yang dilakukan para pekabar Injil bersama anak sekolah minggu Kaliceret waktu itu.

    Sedangkan menurut catatan sejarah Ds.Tabri Wirjowasito (Pendeta GKJ Purwodadi), yang dikutip dari Zendingseeuw van Nederland Oost Indie karangan S.Coolsma (Rotterdam, 24 Agustus 1901) dan Babad Zending Tanah Jawi karangan J.D.Wolterbeek, serta dari cerita dari mulut ke mulut dari dari Buletin Gerejawi, bahwa pertumbuhan kekristenan di Kabupaten Grobogan dimulai pada tahun 1881 yang dirintis oleh de Boer (dari Nyemoh, Salatiga) di desa Keceme (Toroh, Gundih), desa Sulu (Kecamatan Penawangan) dan di desa Kaliceret. Itu artinya bahwa rintisan jemaat di Kaliceret terjadi pada tahun 1881 oleh de Boer. Dari rintisan tersebut, menurut cerita lisan dari mulut ke mulut, dibuatlah gereja “welit”, atap dari ilalang di lokasi GKJ yang sekarang.Menurut keterangan beberapa sumber gereja di Kaliceret didirikan tahun 1898.  Hanya setelah di Kaliceret didirikan rumah sakit pembantu dari Komisi Pitulungan di Purwodadi, karena lokasi gereja semula dipakai untuk membangun rumah sakit tersebut, maka dibangunlah gereja yang baru (GKJTU sekarang), beserta rumah kapandhitan (Loji sekarang), dan Balai Pelatihan Perawat Pribumi di belakang loji (Lihat peta). Untuk Balai Pelatihan Perawat Pribumi sekarang ini tidak ada karena telah dibongkar.
            Disebutkan waktu itu bahwa di Purwodadi terjangkit penyakit Prambosia, Pathek, semacam penyakit kulit menular. 

Foto berlokasi di belakang loji Kaliceret, bernama Kompleks Balai Perawatan Pribumi, tampak beberapa pasien Prambosia/Patek sedang mendapat perawatan.
Patek kebanyakan menyerang kaki.

    Pendeta Geriche yang melayani di Keceme menaruk perhatian terhadap penderitaan rakyat ini dan secara langsung ikut merawat. Untuk itu tahun 1903 didatangkan dr. S.Van Der Ley untuk mendirian Rumah Sakit Pitulungan di Kaliceret. 


 Tampak dalam foto menceritakan para mantri Zendeling sedang memberikan penyuluhan kepada masyarakat.

    Keberadaan Rumah Sakit Pitulungan ini sangat membantu masyarakat sekitar. Terbukti kemudian banyak orang yang berobat ke Kaliceret. Mereka yang menjadi sembuh kebanyakan tidak mau kembali ke desanya tetapi menetap di Kaliceret. Banyak diantara mereka yang menjadi Kristen dan dibabtis. Salah satu contoh adalah Mbah Kaji Badrun dari Kuripan Purwodadi. Setelah sembuh dari penyakitnya, beliau tidak kembali ke desanya tetapi  menjadi Kristen dan menetap di Kaliceret. Namanya kemudian diubah menjadi Isakar dan setelah itu ia diangkat oleh Pendeta Belanda menjadi Kolpolteer (penjual buku rohani) yang menjajakan dagangannya berkeliling dengan sepeda sampsi ke daerah Demak. Maka lama kelamaan jemaat di Kaliceret semakin bertambah banyak.  Sekitar tahun 1930an menjadi 400 orang. Maka tahun 1935 di jemaat Kaliceret ditetap seorang guru Injil bernama M.Josafat Siswodarmo yang melayani bersama Pendeta C.L. Bansemer dan Pendeta Sank. Karena Pendeta C.L. Bansemer dan Pendeta Sank pergi ke Jerman maka tahun 1937 M.Josafat Siwodarmo diangkat menjadi Pendeta pertama di Kaliceret.

Foto berikut ini menggambarkan jejak para pekabar Injil di Kaliceret
Bruder Bansemer sedang mengajak berjalan bersama anak-anak sekolah.